Assalamu'alaikum warahmatullahi
wabarrakatuh
Mereka, lelaki & perempuan, yang
begitu berkomitmen dengan agamanya. Melalui ta'aruf yang singkat mereka
memutuskan untuk melanjutkannya menuju khitbah. Sang lelaki sendiri, harus maju
menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan. Dan ini, tantangan yang
sesungguhnya. Ia telah melewati deru pertempuran semasa aktif di kampus, tetapi
pertempuran yang sekarang amatlah berbeda.
Sang perempuan, tentu saja siap
membantunya. Memuluskan langkah mereka menggenapkan agamanya. Maka di suatu
pagi, di sebuah rumah, seorang lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah
baya, untuk 'merebut' sang perempuan muda, dari sisinya.
"Oh, jadi kau akan melamar
anakku?" tanya sang laki-laki setengah baya.
"Iya, Pak," jawab sang
pemuda.
"Engkau telah mengenalnya
dalam-dalam? " tanya sang laki-laki setengah baya sambil menunjuk si perempuan.
"Ya Pak, sangat mengenalnya,
" jawab sang pemuda mencoba meyakinkan.
"Aku tolak lamaranmu. Berarti
engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak bisa. Aku tidak bisa mengijinkan
pernikahan yang diawali dengan model seperti itu! Bukankah Islam tidak mengenal
istilah pacaran?" balas sang laki-laki setengah baya.
Si pemuda tergagap, "Enggak kok
pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan
lalu.
Semenjak kami berkenalan, kami baru
3 kali bertemu." "Aku tolak lamaranmu. Itu serasa 'membeli kucing
dalam karung' kan, aku tak mau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak
terlalu mengenalnya. Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?" balas
sang setengah baya, keras.
Ini situasi yang sulit. Sang
perempuan muda mencoba membantu sang lelaki muda. Bisiknya, "Ayah, dia
dulu aktivis lho."
"Kamu dulu aktivis ya?"
tanya sang setengah baya.
"Ya Pak, saya dulu sering
memimpin aksi demonstrasi anti Orba di kampus," jawab sang pemuda, percaya
diri.
"Aku tolak lamaranmu. Nanti
kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan
teman-temanmu untuk mendemo rumahku ini kan?" "Anu Pak, nggak kok.
Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak yang nggak datang kalau saya
suruh berangkat."
"Aku tolak lamaranmu. Lha wong
kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur keluargamu?"
Sang perempuan membisik lagi,
membantu, "Ayah, dia pinter lho."
"Kamu lulusan mana?"
"Saya lulusan Matematika Sebuah
Universitas Negeri ternama Pak. Universitas itu salah satu kampus terbaik di
Indonesia lho Pak."
"Aku tolak lamaranmu. Kamu
sedang menghina saya yang cuma lulusan SMA ini tho? Menganggap saya bodoh
kan?"
"Enggak kok Pak. Wong saya juga
nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua
koma Pak."
"Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu
saja bego gitu gimana bisa mendidik anak-anakmu kelak?"
Bisikan itu datang lagi, "Ayah
dia sudah bekerja lho."
"Jadi kamu sudah bekerja?"
"Iya Pak. Saya bekerja sebagai
marketing. Keliling Jawa dan Sumatera jualan produk saya Pak."
"Aku tolak lamaranmu. Kalau
kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak bakal sempat memperhatikan
keluargamu."
"Anu kok Pak. Kelilingnya
jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku." "Lamaranmu
tetap aku tolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja
nggak becus begitu?"
Bisikan kembali, "Ayah, yang
penting kan ia bisa membayar maharnya."
"Rencananya maharmu apa?"
"Seperangkat alat shalat
Pak."
"Aku tolak lamaranmu. Maaf,
kami sudah punya banyak banget. Kalau tidak percaya, lihat saja di
lemari".
"Tapi saya siapkan juga emas
satu kilogram dan uang lima puluh juta rupiah Pak."
"Aku tolak lamaranmu. Kau pikir
aku itu matre. Menukar anakku dengan uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu
bukan caraku."
Bisikan itu datang lagi, "Dia
jago IT lho Pak"
"Kamu bisa internet?"
"Oh iya Pak. Saya rutin pakai
internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net."
"Aku tolak lamaranmu. Nanti
kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan anggaran untuk internet dan nggak ngurus
anak istrimu di dunia nyata."
"Tapi saya nge-net cuma ngecek
imel saja kok Pak."
"Aku tolak lamaranmu. Jadi kamu
nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter, Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek
gitu."
Sang gadis berkata, "Tapi
Ayah..."
Sang laki-laki paruh baya langsung
berkata kepada laki-laki muda, "Kamu kesini tadi naik apa?"
"Mobil Pak."
"Aku tolak lamaranmu. Kamu mau
pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya riya'. Nanti hidupmu juga bakal boros.
Harga BBM kan makin naik."
"Anu saya cuma mbonceng
mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir"
"Aku tolak lamaranmu. Lha nanti
kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini namanya payah. Memangnya anakku
supir?"
Sang gadis berkata, "Ayahh.."
Sang ayah berkata, "Kamu merasa
ganteng ya?"
"Nggak Pak. Biasa saja
kok"
"Aku tolak lamaranmu. Mbok yo
kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik ini."
"Tapi pak, di kampung,
sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak."
"Aku tolak lamaranmu. Kamu
berpotensi menjadi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!"
Sang perempuan kini berkaca-kaca,
"Ayah, tak bisakah engkau tanyakan soal agamanya, selain tentang harta dan
fisiknya?"
Sang setengah baya menatap wajah
sang anak, dan berganti menatap sang muda yang sudah menyerah pasrah.
"Nak, apa adakah yang engkau
hapal dari Al Qur'an dan Hadits?"
Si pemuda telah putus asa, tak lagi
merasa punya sesuatu yang berharga. Pun pada pokok soal ini ia menyerah,
jawabnya, "Pak, dari tiga puluh juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh,
itupun yang pendek-pendek saja. Hadits pun cuma dari Arba'in yang terpendek
pula."
Sang setengah lelaki setengah baya
tersenyum, "Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup. Kau lebih hebat
dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku masih tertatih."
Mata sang Pemuda ikut berkaca-kaca.
SUBHANALLAH... :")
catatan kecil : ''aku mencintaimu
karena agama yang ada padamu, jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah
cintaku padamu''
-Imam Nawawi-
Wallahu a'alam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan di Koment . Untuk Perbaikan Blog saya .. Nice to Meet you and See you .